Perkuat Ketahanan Pangan, Sukabumi Bidik Pengembangan Agrowisata Berkelanjutan

IMG-20260702-WA0022

SUKABUMI – TOPIK PUBLIK

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Dr. Drs. H. Ali Iskandar, M.H., menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan, pengembangan sektor pariwisata, dan keberlanjutan pertanian di kawasan Kadudampit.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten SukabumiDr. Drs. H. Ali Iskandar, M.H.,

Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai usai menghadiri kegiatan Penanaman Perdana bersama masyarakat dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Sukabumi di Desa Sudajaya Girang, Kecamatan Sukabumi, Kamis (2/7/2026).

Menurut Ali Iskandar, secara konsep tata ruang, kawasan Pantai Palabuhanratu, Sukabumi, hingga Kadudampit merupakan kawasan strategis pariwisata yang memiliki karakteristik berbeda.

Khusus wilayah Sukabumi dan Kadudampit, bentang alam pegunungan yang menjadi bagian dari kawasan cagar biosfer dunia merupakan modal utama yang harus dijaga.

“Konsep wisata yang dikembangkan di kawasan ini adalah wisata berbasis keindahan alam, kesejukan, dan keteduhan. Itulah yang dicari wisatawan. Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menjaga kelestarian lingkungan, memastikan konservasi berjalan, serta mempertahankan daya dukung dan daya tampung alam,” ujarnya.

Ia menegaskan, tanpa lingkungan yang tetap lestari, udara yang sejuk, dan iklim yang terjaga, kawasan Sukabumi dan Kadudampit akan kehilangan daya tarik sebagai destinasi wisata.

Di sisi lain, kawasan tersebut juga menjadi sumber penghidupan masyarakat melalui sektor pertanian. Menurutnya, fungsi kawasan sebagai lumbung pangan harus tetap dipertahankan sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan.

“Pertanian dan pariwisata merupakan dua sektor unggulan Kabupaten Sukabumi. Keduanya tidak boleh saling menghambat, tetapi justru harus dipadukan agar dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan,” katanya.

Ali Iskandar menjelaskan, pengembangan kawasan memerlukan pengaturan zonasi yang jelas, sehingga lahan pertanian tetap terlindungi, sementara kebutuhan penunjang pariwisata seperti hotel, penginapan, dan rumah makan dapat berkembang secara terukur.

“Koefisien dan intensitas pemanfaatan lahan harus dihitung secara cermat. Berapa persen kawasan yang tetap menjadi tegakan, berapa persen yang dapat dimanfaatkan untuk fasilitas wisata, semuanya harus dibahas bersama agar keseimbangan alam tetap terjaga,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberadaan akomodasi menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan length of stay atau lama tinggal wisatawan. Semakin lama wisatawan berada di Sukabumi, maka semakin besar pula potensi belanja wisata yang akan berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

Selain itu, aktivitas wisata minat khusus seperti off-road juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Namun demikian, pengembangannya harus tetap memperhatikan keberadaan lahan pertanian agar tidak menimbulkan konflik pemanfaatan ruang.

“Saya melihat ada potensi gesekan antara komunitas pertanian dengan komunitas off-roader. Karena itu kami akan mengagendakan dialog bersama agar tercipta kesepahaman, sehingga keduanya bisa tumbuh berdampingan dan saling menguatkan,” ungkapnya.

Ia juga berharap adanya sinergi yang lebih erat bersama PTPN dalam mengoptimalkan kawasan Pondok Halimun sebagai destinasi wisata berbasis alam, tanpa mengabaikan aspek konservasi dan keberlanjutan ekologi.

“Kita ingin memastikan pengembangan kawasan wisata tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga ekologi, keberlanjutan lingkungan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Dengan kolaborasi semua pihak, Sukabumi dapat menjadi contoh pembangunan yang mampu mengharmoniskan pariwisata, pertanian, dan pelestarian alam,”pungkasnya.

(YL)