Museum Prabu Siliwangi Ponpes Al-fath Di Teliti BRIN

IMG-20260603-WA0117

SUKABUMI – TopikPubliknews.com Upaya pelestarian warisan budaya terus dilakukan Museum Prabu Siliwangi dengan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan penelitian tersebut memasuki penelitian tahap keenam terhadap koleksi keramik kuno sekaligus penyusunan katalog yang berlangsung pada 28 Mei hingga 3 Juni 2026.

Pembuatan katalog bertujuan untuk mendokumentasikan serta mengidentifikasi koleksi keramik secara ilmiah agar informasi mengenai asal-usul, usia, hingga periode pembuatannya dapat diketahui secara lebih akurat oleh masyarakat.

Pemilik Museum Prabu Siliwangi, Prof. DR. KH. Muhammad Fajar Laksana mengatakan. penyusunan katalog menjadi langkah penting dalam menjaga dan memperkenalkan warisan masa lampau kepada publik.

“Katalog ini dibuat untuk memilah dan memilih koleksi yang memiliki nilai penting sehingga dapat memberikan informasi yang akurat, efisien, dan efektif mengenai keberadaan keramik yang ada di Museum Prabu Siliwangi,” ujarnya.

Menurutnya, penyusunan katalog bukan pekerjaan sederhana. Seluruh koleksi harus melalui proses identifikasi dan penelitian mendalam sebelum akhirnya disajikan dalam bentuk katalog ilmiah.

“Keramik yang ada di museum harus diteliti terlebih dahulu, diidentifikasi, kemudian ditentukan asal dan periodisasinya. Setelah itu baru disusun dalam katalog. Ada cerita panjang di balik setiap benda yang ditampilkan,” jelasnya.

Ahli sejarah masa Hindu-Buddha dan keramologi BRIN, Yusmaini Eriawati, menjelaskan bahwa selama sepekan tim melakukan kajian intensif terhadap ratusan koleksi keramik milik Museum Prabu Siliwangi.

“Saya bersama rekan-rekan BRIN dan para ahli arkeologi meneliti sebanyak 205 benda keramik kuno. Awalnya penelitian direncanakan berlangsung hingga dua bulan, yakni Juni hingga Juli 2026. Namun dalam sepekan ini kami fokus memilah dan memilih koleksi terbaik yang akan dimasukkan ke dalam katalog,” katanya.

Sementara itu dari hasil penelitian tersebut, sebanyak 72 koleksi keramik dan rencananya ada 42 keramik terpilih yang akan dijadikan sebagai masterpiece menjadi bagian utama dalam katalog resmi museum tersebut.

Adapun proses penelitian Tim penyusun katalog melibatkan berbagai tenaga ahli, mulai dari fotografer dokumentasi, katalogis BRIN, ahli arkeologi, penyusun data dan tabel, hingga tim desain dan tata letak buku dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

“Dari seluruh koleksi yang diteliti, kami telah menetapkan 72 keramik pilihan untuk dimasukkan ke dalam katalog. Koleksi ini berasal dari berbagai negara dan dinasti, mulai dari China, Jepang, Eropa hingga Asia Tenggara, lengkap dengan spesifikasi dan periodisasinya,” ungkap Yusmaini.

Katalog yang tengah disusun tersebut nantinya akan menjadi referensi penting bagi peneliti, akademisi, pemerhati sejarah, maupun masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih jauh tentang perjalanan perdagangan dan budaya masa lampau melalui artefak keramik.

Saat ini Museum Prabu Siliwangi diketahui menyimpan sekitar 2.000 koleksi keramik kuno dari berbagai era kerajaan dan dinasti. Sebagian koleksi diperkirakan berusia ratusan hingga ribuan tahun, menjadikannya salah satu aset sejarah berharga yang dimiliki Sukabumi.

Melalui penelitian dan penyusunan katalog ini, Museum Prabu Siliwangi bersama BRIN berharap jejak peradaban yang tersimpan dalam setiap pecahan sejarah tersebut dapat terdokumentasi dengan baik dan diwariskan kepada generasi mendatang. Keberadaan katalog juga diharapkan menjadi jendela pengetahuan yang membuka tabir sejarah perdagangan, budaya, dan hubungan antarbangsa yang pernah terjalin di Nusantara berabad-abad silam.

(SH).