Kolaborasi dan Regenerasi Jadi Kunci, Dinas Ketahanan Pangan Sukabumi Perkuat Fondasi Swasembada Pangan

IMG-20260702-WA0019(1)

SUKABUMI – TOPIK PUBLIK

Ketahanan pangan tidak dapat diwujudkan hanya melalui kerja pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, desa, hingga dunia usaha agar ketersediaan pangan tetap terjaga secara berkelanjutan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi dr. Gatot Sugiharto, Sp.B., MARS,

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi, dr. Gatot Sugiharto, Sp.B., MARS, saat ditemui awak media usai menghadiri kegiatan penanaman perdana bersama masyarakat di Desa Sudajaya Girang, Kecamatan Sukabumi, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, ketahanan pangan merupakan sebuah sistem yang saling berkaitan dari tingkat paling kecil, yakni rumah tangga, hingga menjadi pondasi ketahanan pangan nasional. Karena itu, setiap keluarga memiliki peran penting dalam memastikan pangan tersedia, mudah diperoleh, mudah didistribusikan, serta aman dan bergizi untuk dikonsumsi.

“Ketahanan pangan dimulai dari rumah tangga. Ketika setiap keluarga mampu memenuhi kebutuhan pangannya dengan baik, maka desa akan kuat, kabupaten kuat, provinsi kuat, hingga akhirnya memperkuat ketahanan pangan Indonesia,” ujar dr. Gatot.

Ia menjelaskan, Dinas Ketahanan Pangan berfungsi sebagai penghubung sekaligus penguat sinergi antarperangkat daerah dan para pemangku kepentingan. Mulai dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga pelaku usaha dan dinas terkait, seluruhnya memiliki peran dalam menjaga kelancaran distribusi pangan dari proses produksi hingga sampai ke tangan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, dr. Gatot memberikan apresiasi atas semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat bersama pihak swasta dalam mengoptimalkan lahan pertanian. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana ketahanan pangan dapat dibangun melalui kebersamaan.

“Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah, masyarakat justru mampu menunjukkan kepeduliannya. Pihak swasta ikut menyediakan lahan dan membantu benih, sementara masyarakat mengelolanya bersama. Kolaborasi seperti ini sangat positif dan layak menjadi contoh,” tuturnya.

Ia juga menyoroti capaian membanggakan Kabupaten Sukabumi di sektor pertanian. Sebagai kabupaten terluas kedua di Pulau Jawa, Sukabumi berhasil menjadi daerah swasembada beras peringkat kedua di Indonesia dan memperoleh penghargaan dari Presiden Republik Indonesia.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut harus terus dijaga melalui upaya regenerasi petani. Menurutnya, semakin sedikit generasi muda yang berminat menggeluti dunia pertanian menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan swasembada pangan.

“Jangan sampai keberhasilan hari ini berhenti di generasi sekarang. Kita harus menyiapkan petani-petani muda yang siap melanjutkan pembangunan sektor pertanian. Teknologi harus menjadi daya tarik agar anak-anak muda melihat pertanian sebagai profesi yang modern, produktif, dan menjanjikan,” katanya.

Untuk mendukung hal tersebut, Dinas Ketahanan Pangan terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat, khususnya keluarga muda, mengenai pentingnya pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA). Edukasi dilakukan melalui penyuluhan, kampanye pangan lokal, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak agar kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ketahanan pangan semakin meningkat.

“Ketahanan pangan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua. Dengan semangat kolaborasi, kepedulian masyarakat, serta hadirnya generasi petani milenial, saya optimistis Kabupaten Sukabumi akan mampu mempertahankan bahkan meningkatkan prestasinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional,” pungkas dr. Gatot. ( YL)