Kemah Nasional PUI di Sukabumi, Ketua Umum Tekankan Penguatan Karakter Generasi Muda Hadapi Tantangan Digital
SUKABUMI — TOPIK PUBLIK
Kemah Nasional Persatuan Ummat Islam (PUI) yang digelar di Camping Ground Selabintana, Kabupaten Sukabumi, menjadi momentum untuk memperkuat karakter dan kepemimpinan generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.
Ketua Umum PUI H. Raizal Arifin, S.S., M.Sos., mengatakan dipilihnya Sukabumi sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Kota dan wilayah Sukabumi memiliki nilai sejarah yang kuat bagi perjalanan PUI, khususnya karena menjadi tempat perjuangan salah satu tokoh pendiri PUI, Mr. Samsudin.
Ketua Umum PUI H. Raizal Arifin, S.S., M.Sos.,
Menurut Raizal, PUI didirikan oleh tiga tokoh penting, yakni KH Abdul Halim dari Majalengka, KH Ahmad Sanusi dari Sukabumi, dan Mr. Samsudin. Ketiganya memiliki peran besar dalam perjalanan organisasi sekaligus perjuangan bangsa Indonesia.
“Kenapa tempatnya di Sukabumi? Karena Sukabumi ini bagi PUI adalah tempat yang paling bersejarah setelah Majalengka. PUI didirikan oleh tiga pendiri, yaitu KH Abdul Halim dari Majalengka, KH Ahmad Sanusi dan Mr. Samsudin,” ujar Raizal saat ditemui dalam kegiatan Kemah Nasional PUI, Kamis (3/9/2026).
Ia menjelaskan, sosok Mr. Samsudin memiliki peran penting dalam mempertemukan KH Ahmad Sanusi dan KH Abdul Halim hingga kemudian terjalin komunikasi untuk menyatukan dua organisasi.
Selain sebagai salah satu pendiri PUI, Mr. Samsudin juga tercatat sebagai anggota BPUPKI. Ia juga pernah dipercaya menduduki posisi Wakil Perdana Menteri II serta menjalankan tugas diplomatik sebagai duta besar di Pakistan.
“Mr. Samsudin ini memiliki jasa-jasa besar. Pertama, di PUI beliau yang kemudian menghubungkan KH Ahmad Sanusi dengan KH Abdul Halim. Ada pembicaraan dari KH Abdul Halim dengan KH Ahmad Sanusi untuk menyatukan dua organisasi,” jelasnya.
Menurut Raizal, perjalanan sejarah tersebut menjadi salah satu alasan PUI memilih Sukabumi sebagai lokasi kegiatan. Selain bernilai historis, kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk menyapa dan melakukan konsolidasi bersama sekolah-sekolah PUI.
Bentuk Karakter Generasi Muda
Raizal mengatakan Kemah Nasional PUI juga dirancang sebagai ruang pembinaan generasi muda. Menurutnya, anak-anak muda saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama akibat perkembangan dunia digital dan munculnya berbagai pengaruh negatif.
“Kita tahu generasi muda saat ini mengalami tantangan yang tidak mudah. Ada era digital, kemudian banyak sekali hal-hal negatif. Oleh karena itu, kita ingin melakukan pengembangan karakter,” katanya.
Melalui kegiatan perkemahan, para peserta dibina agar memiliki kedisiplinan, jiwa kepemimpinan, kepedulian sosial, serta kecintaan terhadap lingkungan.
Kegiatan Kemah Nasional PUI tersebut berlangsung sejak 2 September dan dijadwalkan berakhir pada 4 September 2026. Kegiatan dibuka oleh perwakilan Kwartir Nasional (Kwarnas), dilanjutkan dengan berbagai agenda pembinaan dan apel kebangsaan sebelum ditutup pada Jumat 4/9/2026.
Peserta yang mengikuti kegiatan tersebut berasal dari empat provinsi, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, serta perwakilan dari Sumatera Utara.
Bekal Hadapi Tantangan Global
Lebih lanjut, Raizal mengatakan PUI ingin membangun generasi muda melalui konsep pembinaan Islam yang menekankan pendidikan dan pembentukan karakter.
Ia menyebut semangat tersebut sejalan dengan konsep yang dikembangkan PUI, yakni Islam Samaniah, yang diarahkan pada pembinaan generasi muda agar memiliki ketahanan dalam menghadapi dinamika kehidupan dan tantangan global.
“Kami ingin sesuai dengan PUI ini memiliki Islam Samaniah. Ini adalah Islam Tarbiyah, yaitu bagaimana kemudian kita melakukan pembinaan kepada generasi muda agar mereka lebih imun menghadapi dinamika dan tantangan global saat ini,” ungkapnya.
Menurutnya, pembinaan karakter juga menjadi salah satu upaya mencegah generasi muda terjerumus dalam berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang dapat merugikan masa depan mereka, termasuk praktik pinjaman online (pinjol) yang tidak bijak.
Raizal menilai perhatian terhadap generasi muda harus dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Karena itu, kegiatan di luar ruangan seperti perkemahan dinilai dapat menjadi sarana efektif untuk membangun kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan dan kebersamaan.
“Ini menjadi starting point kita untuk melakukan pendekatan kepada generasi muda. Kalau kita melakukan pembinaannya hanya di indoor, tentu pendekatannya akan berbeda,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi dapat menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan sehingga para peserta mampu membawa nilai-nilai disiplin, kepemimpinan, persatuan, kecintaan terhadap lingkungan dan karakter kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemah Nasional PUI di Sukabumi pun diharapkan menjadi ruang konsolidasi sekaligus wadah membangun generasi muda yang memiliki ketahanan karakter, kemampuan memimpin, serta kesiapan menghadapi tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan. (YL)
