Bah Acep Kembangkan Alpukat Agus dan Ubad di Kadudampit, Bidik Pasar Ekspor

1790508415790

SUKABUMI – TOPIK PUBLIK

Bah Acep, petani alpukat asal Tunggul Ki Haji, Binangun, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, mengembangkan berbagai varietas alpukat unggulan di lahan seluas sekitar lima hektare. Selain untuk produksi, kebun tersebut dijadikan sarana penelitian dan pembelajaran bagi petani.

Saat ditemui pada Minggu (27/9/2026), Bah Acep memperkenalkan Alpukat Agus (Alpukat Genjah Unggul Sukabumi) dan Alpukat Ubad (Unggul Besar Asli Dampit), serta sejumlah varietas lainnya, seperti Red Vietnam, Aligator, Hass, dan Pinkerton.

Menurutnya, Alpukat Agus memiliki keunggulan berupa pohon yang kokoh serta kemampuan menghasilkan buah dan bunga secara bersamaan. Sementara itu, Alpukat Ubad memiliki daging tebal, biji kecil, dan bobot buah mencapai 1–1,2 kilogram.

“Pohon induk Alpukat Ubad yang berusia sembilan tahun mampu menghasilkan hingga satu ton buah. Namun, daya tahannya tidak seperti Alpukat Agus,” ungkap Bah Acep.

Ia menjelaskan, Alpukat Agus hasil sambung berpotensi mulai berbuah pada usia dua setengah tahun. Pada panen kedua, produksinya dapat mencapai 20–30 kilogram dan meningkat hingga 50 kilogram per pohon pada panen ketiga.

Bah Acep menekankan pentingnya penelitian kesesuaian lahan sebelum petani menentukan varietas yang akan dibudidayakan.

“Kalau bicara unggul, harus ada perbandingan dengan jenis lain. Tidak semua alpukat yang bagus di satu tempat akan menghasilkan produksi yang sama ketika ditanam di tempat berbeda,” jelasnya.

Selain mengembangkan perkebunan, Bah Acep telah menyiapkan sekitar 20 ribu polybag bibit Alpukat Agus, dengan 50 persen di antaranya telah dipesan. Permintaan datang dari berbagai daerah, termasuk Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra.

Peluang pasar ekspor juga mulai dijajaki. Bah Acep mengaku pernah membahas potensi pemasaran Alpukat Agus dengan Wali Kota Fukuoka, Jepang, saat kunjungan ke Bandung. Menurutnya, alpukat tersebut berpeluang dipasarkan dengan harga sekitar tiga dolar AS per buah.

Namun, keterbatasan pasokan yang berkelanjutan masih menjadi kendala untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

Bah Acep berharap Pemerintah Kabupaten Sukabumi memberikan dukungan berupa pelatihan, permodalan, penyediaan bibit, dan akses lahan. Ia bersama timnya berencana mendatangi Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi untuk memperkenalkan varietas unggulan sekaligus menyampaikan kebutuhan petani.

Ia juga mendorong budidaya alpukat sebagai alternatif usaha pertanian jangka panjang yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendukung pelestarian lingkungan, khususnya di kawasan perbukitan.

(YL)