Sang Kopral Sonny Satya, Prajurit Yonif 310/KK yang Berbagi Keahlian Pengobatan Alternatif Gratis
SUKABUMI – TOPIK PUBLIK
Kepedulian terhadap masyarakat tak hanya diwujudkan melalui tugas kedinasan. Kopral Satu (Koptu) S.H. Satya Dharma, anggota Batalyon Infanteri 310/Kidang Kancana, turut mengabdikan keahliannya dengan membantu masyarakat yang mengalami keluhan pada saraf, otot, dan tulang melalui pengobatan alternatif secara gratis.
Berdasarkan hasil wawancara pada Senin (19/10/2026), Sonny dikenal memiliki keterampilan pengobatan alternatif yang berfokus pada keluhan saraf dan urat, gangguan peredaran darah, serta sejumlah masalah pada persendian tulang dan otot dan memperlancar peredaran darah.

Metode pengobatan yang dilakukannya antara lain pijat alternatif dan penanganan keluhan pada bagian tubuh tertentu. Layanan tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya warga kurang mampu.
Menariknya, Sonny tidak menetapkan satu lokasi praktik khusus. Ia memilih sistem jemput bola dengan mendatangi masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Program pengobatan gratis tersebut, berdasarkan penjelasan dalam wawancara, merupakan bagian dari sosialisasi program Mabes TNI untuk mendorong pemanfaatan keterampilan prajurit yang memiliki keahlian tertentu bagi kepentingan masyarakat.
Keluhan yang biasa ditangani di antaranya nyeri yang berkaitan dengan gangguan saraf, saraf terjepit, keluhan pada tulang belakang, hingga masalah otot dan persendian. Layanan ini juga terbuka bagi berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak, sesuai kondisi dan kebutuhan penanganannya.
Dalam wawancara tersebut, diceritakan pula pengalaman seorang pasien yang sebelumnya menjalani operasi, tetapi masih mengalami keluhan pada bagian tulang ekor. Pasien itu disebut telah menjalani pemeriksaan, termasuk MRI, dan sempat mencari penanganan ke sejumlah tempat.
Setelah mendapatkan penanganan dari Sonny, pasien tersebut mengaku merasakan perubahan dan dapat kembali bergerak dengan lebih normal. Meski demikian, pengalaman individual tersebut tidak dapat dijadikan jaminan bahwa metode serupa akan memberikan hasil yang sama bagi setiap pasien.
Kehadiran Sonny menjadi gambaran bahwa pengabdian seorang prajurit dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk berbagi keterampilan untuk membantu warga yang membutuhkan.
Melalui layanan tanpa biaya dan pendekatan jemput bola, ia berupaya mendekatkan bantuan kepada masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Kendati demikian, masyarakat yang mengalami gejala saraf terjepit, stroke, gangguan peredaran darah, atau keluhan tulang belakang tetap perlu menjalani pemeriksaan tenaga medis profesional. Pengobatan alternatif tidak boleh menggantikan diagnosis maupun perawatan medis yang diperlukan, terutama pada kondisi serius seperti stroke.
Pengabdian Kopka Sonny Satya diharapkan dapat menjadi bentuk kepedulian sosial yang memperkuat kedekatan TNI dengan masyarakat sekaligus mendorong semakin banyak pihak untuk berbagi keahlian demi membantu sesama sesuai dengan Semboyan “Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”.
(YL)
