Ratusan Petani Penggarap dan Bagja Sutra Sukabumi Tolak Wacana Pembangunan Batalyon Yonif 345 Maung Sancang

IMG_20261004_133605

SUKABUMI – TOPIK PUBLIK

Ratusan petani penggarap bersama Bagja Sutra Sukabumi menggelar musyawarah di kawasan lahan perkebunan Desa Sudajaya Girang, Kabupaten Sukabumi, Minggu (4/10/2026).

Mereka menyampaikan penolakan terhadap wacana pembangunan Batalyon Yonif 345 Maung Sancang apabila menggunakan lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Ketua Umum Bagja Sutra Sukabumi, Ir. Edi Rahmat, menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak pembangunan fasilitas negara. Namun, ia meminta agar rencana tersebut dipertimbangkan kembali dan mencari lokasi lain yang tidak mengorbankan lahan serta mata pencaharian petani.

“Wacana pembangunan batalyon di sini agar dibatalkan dan dipindahkan ke tempat lain. Kami tidak alergi pembangunan, tetapi jangan sampai pembangunan mengusir petani dan menghilangkan harapan hidup mereka,” ujar Edi.

Menurut Edi, para petani telah menggarap kawasan tersebut sejak sekitar 2016. Lahan yang sebelumnya dipenuhi alang-alang dan belantara secara bertahap dibuka dan dikembangkan menjadi lahan pertanian produktif.

Ia menyebut, lahan yang disebut-sebut masuk dalam wacana pembangunan tersebut mencapai sekitar 75 hektare. Pihaknya akan menyampaikan aspirasi tersebut kepada jajaran Kodim dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

“Kami akan sowan ke Kodim dan Bupati dengan membawa surat-surat sesuai harapan kami. Sikap kami tetap menolak apabila pembangunan menggunakan lahan ini,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Harian Bagja Sutra Sukabumi, M.J. Lumindar, mengatakan penolakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan mata pencaharian petani, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan.

“Ini menyangkut ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, fungsi resapan air serta keseimbangan ekologi kawasan Sukabumi Utara, dari hulu hingga hilir,” kata Lumindar.

Meski demikian, petani penggarap dan Bagja Sutra Sukabumi menegaskan tidak anti terhadap pembangunan. Mereka berharap kepentingan pertahanan negara dapat berjalan seiring dengan perlindungan terhadap petani dan lingkungan.

“Kami tidak menolak pembangunan. Kami berharap ada sinergi untuk membangun negeri ini tanpa mengorbankan petani dan lingkungan,” pungkasnya.

(YL)